Sabtu, 11 Oktober 2008

Malapetaka KPR Amerika

Catatan ini sekedar upaya pemahaman saya pribadi atas kejadian krisis keuangan global yang dimulai oleh krisis subprime mortgage di Amerika.

PERUMAHAN
Salah satu ideologi ekonomi Amerika adalah kepemilikan rumah. Memiliki rumah adalah salah satu mimpi Amerika. Rumah / properti juga dijadikan aset utama rakyat Amerika, mulai dari orang biasa sampai elit sekelas Donald Trump dan Robert T Kiyosaki.

Pada umumnya orang Amerika membeli rumah dengan fasilitas kredit (seperti KPR di Indonesia). Sejak depresi tahun 1930-an, sebagai salah satu upaya keluar dari krisis, pemerintah AS membangun infrastruktur ekonomi termasuk sektor properti dan perumahan. Pada tahun 1938 pemerintah AS membentuk BUMN The Federal National Mortgage Association (disingkat secara kreatif Fannie Mae). Tugasnya adalah membeli KPR dari perbankan sehingga perbankan memperoleh dana lagi untuk memberi KPR kepada lebih banyak rakyat Amerika. Fannie Mae membundel sejumah KPR untuk dijadikan produk sekuritas, mortgage-based securities (MBS). Fannie Mae menjual  MBS ini kepada para investor (Wall Street) atau menerbitkan obligasi dengan jaminan MBS ini. Para debitur KPR tetap melakukan pembayaran cicilan melalui bank asal, kemudian bank ini menyalurkan pembayaran itu kepada Fannie Mae untuk diteruskan kepada para investor.

Pada tahun 1968 Fannie Mae diprivatisasi. Kemudian untuk mengakhiri monopoli Fannie Mae pada tahun 1970  Kongres AS mengijinkan berdirinya perusahaan swasta The Federal Home Loan Mortgage Corporation (disingkat Freddie Mac). Meskipun tidak didanai pemerintah, 5 dari 18 direktur Freddie Mac ditunjuk oleh pemerintah (Majalah Tempo 21 September 2008). Kedua perusahaan ini sering disebut sebagai Government Sponsored Enterprise (GSE).

Selain itu, undang-undang perpajakan di AS juga memberi insentif untuk memiliki rumah, yaitu bunga cicilan KPR bisa dijadikan sebagai pengurang pajak.

UANG MURAH
Pada tahun 2000, ketika "DotCom" mania mulai tumbang, maka ekonomi AS memasuki perlambatan. Ditambah kejadian 9/11 pada 2001, maka ekonomi AS mengalami 2 pukulan bertubi-tubi. Bank sentral AS (The Fed) bereaksi dengan cara memotong bunga Fed rate berkali-kali sampai ke tingkat 1,25% p.a. Langkah ini memang manjur, ekonomi berputar kembali. Investasi marak karena biaya investasi (bunga riil) boleh dikatakan negatif (Al Jazeera, How Financial Bubble Burst).

Terjadi fenomena uang murah, pinjaman mudah. Hal ini memacu orang untuk (salah satunya) membeli rumah (ingat, kepemilikan rumah adalah impian Amerika). Karena permintaan meningkat, maka harga rumah juga melonjak. Para developer berlomba-lomba membangun rumah, para investor menanamkan uangnya disektor properti.

Harga rumah naik 20 persen per tahun (ingat hal ini terjadi pada waktu Fed rate hanya 1.25-2% per tahun). Menurut cerita, ada orang Indonesia tinggal di Washington DC membeli rumah tahun 1998 dengan harga US$ 210 ribu. Lima tahun kemudian ia menjualnya dengan harga US$ 410 ribu . Ibaratnya, orang ini tinggal 5 tahun tanpa membayar, malah dibayar.

Jika harga rumah naik 20 persen per tahun, maka di tahun kedua, nilai rumah (yang dijadikan jaminan) sudah 120 persen. Dengan demikian, nilai pinjaman (yang awalnya 100 persen terhadap nilai jaminan), pada awal tahun kedua menjadi hanya 83%. Nasabah yang pada tahun pertama hanya membayar bunga saja, tanpa pokok cicilan, tiba-tiba pada tahun kedua seakan-akan sudah membayar uang muka sebesar 17% (Cyrillus Harinowo, Majalah Tempo 12 Oktober 2008). Maka mulailah perbankan menawarkan KPR tanpa uang muka, dan mereka mulai menggarap segmen nasabah yang beresiko, khususnya nasabah berpendapatan rendah yang baru pertama kali membeli rumah. Ini yang disebut nasabah "sub-prime".


BUBBLE BURST
Karena harga rumah naik terus, maka perlahan-lahan mulai terjadi inflasi. Secara bertahap The Fed merespon dengan menaikkan suku bunga The Fed bertahap sampai akhirnya mencapai 5.25%. Karena tingkat bunga naik secara bertahap, maka para nasabah KPR perlahan-lahan melihat cicilan rumahnya juga perlahan-lahan naik, sampai.....suatu ketika mereka sadar mereka sudah tidak mampu bayar cicilan lagi. (Untuk Indonesia, situasi ini mirip bila suku bunga KPR yang sekarang rata2 10 persen perlahan-lahan naik menjadi 40%). Maka KPR mulai macet satu per satu, terutama bagi golongan "sub-prime" tadi. Maka dimulailah periode penyitaan rumah.

Para developer, tidak sadar atas situasi baru ini,  terus membanjiri pasar dengan rumah-rumah baru. Penjualan mulai seret, karena KPR mulai mahal. Stok rumah kosong makin bertumpuk, baik yang berasal dari rumah baru, maupun yang dari rumah sitaan.

Pada tahun 2006, harga rumah mulai turun. Di Florida dan California, harga rumah merosot 10, 15, bahkan 20 persen. Gelombang gagal bayar dan penyitaan makin membesar. Ditambah lagi karena nilai rumah turun, maka nilai jaminan juga turun, yang pada banyak kasus, menjadi lebih kecil daripada nilai pinjaman yang tersisa (Al Jazeera, How The Financial Bubble Burst).

Pada 2007, para kreditur KPR mulai goyah karena makin banyak kredit macet, beberapa diantaranya mulai bangkrut. Pada 2008 gelombang macet ini mencapai Wall Street, memakan Bear Sterns, kemudian Fannie Mae dan Freddie Mac, lalu Lehman Brothers dan Merryll Linch dan AIG.


SEKURITISASI MORTGAGE
Seperti diuraikan di atas, KPR-KPR di Amerika dibundel dan disekuritisasikan menjadi produk sekuritas yang dapat diperjual-belikan, seperti layaknya saham dan obligasi. Produknya dinamakan Mortgage-Based Securities (MBS), ada juga yang disebut sebagai Collateralised Debt Obligation (CDO).  Fannie Mae dan Freddie Mac berperan atas sekitar 50% dari total proses sekuritisasi mortgage di Amerika. Diperkirakan kedua GSE ini memegang mortgage senilai US$ 5.2 trilyun. Perdagangan MBS/CDO ini pada awalnya dimaksudkan untuk menyuntik dana segar ke perbankan sehingga mereka bisa membiayai KPR lebih banyak lagi.

Para pembeli produk sekuritas mortgage ini sangat banyak, mulai dari Reksadana, Dana Pensiun, Hedge Funds, Private / Investment Banks, dan lain-lain; di Amerika dan di seluruh dunia. Lehman Brothers, JP Morgan, Citigroups, Deutsche Bank salah satu di antara para pembeli itu.

Untuk melindungi pembeli / pemegang MBS / CDO ini, lalu muncul produk turunan yang dinamakan Credit Default Swap (CDS). Ini semacam asuransi obligasi yang melindungi pemilik obligasi dari kerugian bila obligee-nya mengalami kesulitan. Perusahaan yang menerbitkan asuransi ini tentunya harus menyisihkan dananya sebagai "kolateral", sehingga penerbit CDS bisa membayar klaim.

Dengan asumsi bahwa harga properti akan naik terus, maka perdagangan MBS / CDO berikut derivatifnya (CDS dll) makin naik volume dan nilainya, berlipat-lipat di atas nilai awal mortgage-nya.


KEKACAUAN WALL STREET
Sekitar 20% dari jutaan mortgage yang diperjual-belikan ternyata merupakan kategori "sub-prime".  Ternyata pula, sebagian MBS / CDO tadi mengemas mortgage "prime" dan "sub prime" dalam satu bundel / produk. Konsekuensinya, pada saat baik, mortgage "sub prime" akan dinilai sebagai produk bagus, karena disatukan dengan mortgage "prime". Sebaliknya, ketika situasi memburuk, maka mortgage "prime" akan dinilai buruk karena bersatu dengan mortgage "sub-prime". Ketika para nasabah "sub-prime"  mulai mengalami gagal bayar cicilan, maka dimulailah malapetaka ini.

Di garis depan yang pertama bangkrut adalah kreditur KPR, dimulai sejak tahun 2007. Mereka mengalami kesulitan likuiditas (karena nasabah gagal membayar cicilan), ditambah kerugian karena nilai jaminan menjadi dibawah nilai pinjaman.

Fannie Mae dan Freddie Mac giliran berikutnya. Karena berpotensi mengalami kerugian, para investor melepas saham GSE ini di bursa Wall Street. Akibatnya saham kedua perusahaan ini jatuh bebas. Sejak awal 2008, saham biasa kedua perusahaan ini jatuh 85% dengan kapitalisasi pasar yang hilang lebih dari 100 milyar dollar. Menghitung kerugian saham preferensi agak lebih sulit. Mereka menerbitkan sejumlah saham preferensi dengan harga yang berbeda-beda. Salah satu saham preferensi Freddie Mac yang diterbitkan 29 November 2007 pada $25 per saham misalnya, ditutup dengan nilai $12.87 pada 27 Agustus 2008, menimbulkan total kerugian hampir 3 milyar dollar bagi pemegangnya. (Business Week, Fannie Mae and Freddie Mac: A Damage Report).

Berikutnya, para pemegang MBS / CDO. Karena nilai produk sekuritas ini terus turun, maka para pemegangnya harus menghapus-bukukan nilai dan mencatat kerugian. Akibatnya, saham perusahaan-perusahaan ini juga terjun bebas.  Karena tekanan kerugian dan anjloknya saham, dampaknya mulai mencapai investment-bank. Pada Maret 2008, Bear Sterns, investment-bank kelas utama yang pertama tumbang. 

Para pemilik dana menjadi ekstra hati-hati. Mereka menghentikan pinjaman kepada individu, private-banks, bahkan antar perbankan. Mengalami tekanan bertubi-tubi: kerugian MBS/CDO yang dipegangnya, hancurnya harga saham perusahaannya, dan hilangnya sumber pendanaan / pinjaman, akhirnya membuat Lehman Brothers bangkrut. 

CDS yang seharusnya diterbitkan dengan kolateral, ternyata banyak yang dibuat tanpa jaminan. Ini mungkin yang menyebabkan perusahaan asuransi AIG megap-megap sehingga harus dibantu pemerintah AS sejumlah 85 milyar dollar.

Bangkrutnya Lehman Brothers mengungkap lebih banyak borok. Seperti para dealer lainnya, Lehman melakukan transaksi beresiko tinggi memindahkan uang dari perusahaan ke perusahaan lainnya. Dalam suatu transaksi derivatif, mitra diminta untuk menaruh kolateral, yang kemudian oleh Lehman kolateral ini digunakan berkali-kali untuk transaksi pengumpulan dana yang berlainan.  Asosiasi International Derivatif dan Swap (ISDA) memperkirakan para investment-bank berhasil mengumpulkan kolateral para mitra mereka sejumlah $2 trilyun, yang kemudian dijadikan kolateral lagi oleh para investment-bank itu untuk memperoleh dana beberapa kali lipat. Pengadilan kepailitan Lehman saat ini menangani sekitar 1 juta transaksi derivatif yang macet senilai lebih dari 700 milyar dollar dengan sekitar 8000 partner yang menuntut pengembalian kolateralnya. (Business Week, Lehman: One Big Derivatives Mess).


DUNIA GONCANG
Lehman juga menyebabkan main keringnya likuiditas pendanaan, yang pada akhirnya mendorong Wall Street makin jeblok. Setelah mulai batuk karena sub-prime mortgage, Wall Street makin hancur karena gabungan faktor-faktor: kerugian para emiten yang mengakibatkan investor menjual saham, praktek short selling yang makin menurunkan nilai saham, keringnya likuiditas yang menyebabkan pelaku pasar menjual saham untuk mendapatkan dana tunai, dan kepanikan karena tidak ada yang tahu sebesar apa gunung es yang ada di bawah permukaan.

Karena seluruh bursa saham di dunia saling terhubung satu dengan yang lain, maka faktor-faktor di atas juga terjadi di semua bursa saham di dunia. Bank-bank di Eropa memiliki banyak eksposure terkait dengan produk MBS/CDO ini. Penurunan nilai sekuritas ini memaksa bank-bank mencatatkan kerugian (dalam orde milyar-milyar dolar), yang kemudian menjatuhkan nilai saham bank-bank ini, kemudian memicu kepanikan para nasabah bank atas keamanan simpanan mereka di bank.  Sejumlah pemerintah di Eropa telah menasionalisasi sejumlah bank dalam rangka menjamin dana simpanan para nasabah.

Bursa saham Indonesia tidak terkecuali. Faktor negatif lokal juga memperparah IHSG. Faktor lokal yang dimaksud adalah transaksi Repo dan sentimen negatif kelompok Bakrie. Rupiah juga merosot nilainya terhadap dollar Amerika karena gabungan faktor-faktor: pelarian modal investor asing dari bursa ke luar negeri (mungkin untuk menutupi kerugian atau kebutuhan dana), dan kepanikan para pelaku ekspor-impor yang tiba-tiba menghadapi situasi kurangnya pasokan dollar.


Sejauh ini, begitulah pemahaman saya atas krisis finansial global yang bermula dari krisis subprime mortgage di Amerika. Entri selanjutnya akan menguraikan pemahaman saya mengenai langkah perbaikan yang dilakukan.


Sabtu, 09 Agustus 2008

Merah Kirmizi


Novel karya Orhan Pamuk ini (pemenang Nobel Sastra 2006) memang bukan novel baru. Edisi bahasa Indonesia terbit tahun 2001, cetakan kedua terbit tahun 2006. Saya sendiri baru selesai membacanya hari ini, padahal saya beli di Palasari Lebaran tahun lalu.


Ceritanya mengenai pembunuhan 2 seniman Ustmaniyah di ujung abad ke enambelas yang terjadi di ibukota Istanbul. Eksplorasi pengarang atas pembunuhan ini berkembang luas: cinta getir banyak segi, benturan peradaban, deskripsi seni terutama seni lukis yang fasih, dan sejumlah dongeng klasik.


Para tokoh dalam buku ini muncul secara bergantian dan masing-masing bertutur mengenai apa yang terjadi dilihat dari sudut pandang masing-masing tokoh. Pada adegan pembunuhan, misalnya, Pamuk menceritakan adegan ini dilihat dari tokoh yang dibunuh dan pada bab berikutnya cerita dari si pembunuh.


Pamuk juga mampu bercerita detil. Untuk satu adegan pembunuhan, dia mampu bertutur sebanyak empat halaman, mulai dari sekarat sampai tewas; itu baru dari sisi tokoh yang dibunuh, belum cerita si pembunuhnya.


Novel ini juga bercerita tentang kehidupan para seniman masa itu, khususnya seni lukis, berikut intrik-intrik seniman istana, dan benturan peradaban yang menyertainya. Ada perdebatan soal apakah melukis makhluk hidup "seindah aslinya", termasuk manusia, bertentangan dengan hukum Allah atau tidak. Perdebatan itu membawa terpecahnya masyarakat menjadi tiga golongan: golongan puritan, yaitu yang menganggap bahwa seni itu harus mengabdi pada hukum Tuhan, karena itu tidak boleh tercampur dengan budaya asing (dalam hal ini budaya Eropa / non Muslim); golongan liberal, yang menganggap bahwa seni itu untuk kepuasan rohani manusia, sehingga bisa bersumber dari Barat dan Timur; dan golongan ditengah, yaitu masyarakat umum.


Tapi terus terang saja, saya cape baca novel ini. Mungkin karena gaya bertutur para tokohnya yang cenderung monolog. Sedikit sekali dialog. Detil-detil cerita secara rumit (bagi saya) ditaruh di narasi deskriptif para tokoh dalam memandang atau melakukan suatu peristiwa.

Saya juga tidak mampu mengerti kaitan antara judul novel dengan isi ceritanya. Maaf, barangkali novel ini bukan gue banget.


Jumat, 13 Juni 2008

Dangerous Silence

Ketika Nazi memburu kaum komunis, aku diam saja; karena aku bukan komunis.
Ketika mereka menangkap kelompok sosial demokrat, aku juga diam; aku bukan sosial demokrat.
Ketika mereka mengejar golongan serikat dagang, aku tidak protes; aku bukan anggota serikat.
Ketika mereka memburu orang Yahudi, aku tetap diam; aku bukan Yahudi.
Ketika mereka menangkapku, sudah tidak ada yang tersisa untuk melawan.

Puisi di atas berjudul "First They Came", karya Martin Niemöller (14 January 1892 – 6 March 1984); seorang teolog dan pastor Lutherian terkemuka Jerman yang anti Nazi. Walaupun pada mulanya ia adalah pendukung Nazi, sejak tahun 1934 ia mulai menentang Nazi. Ia ditangkap dan dipenjarakan di kamp konsentrasi di Sachsenhausen dan Dachau sejak tahun 1937. Dia berhasil selamat dan menjadi tokoh yang bersuara vokal mengenai rekonsiliasi Jerman setelah Perang Dunia II.

Puisi ini sering dikutip untuk menjelaskan bahaya dari suatu sikap "apatis politik". Situasi yang berbahaya ini biasanya bermula dari adanya ancaman kebencian dan ketakutan yang spesifik dan tertarget, yang kemudian berkembang menjadi tidak terkontrol.

Sekarang ini saya merasakan semacam "kegamangan" yang tidak rasional, yang membuat saya khawatir bahaya itu bisa terjadi di Indonesia. Ketika kebebasan beragama mulai dipasung berselimutkan penodaan atas agama. Ketika kaum minoritas dikejar-kejar mentang-mentang mereka kecil dan tidak melawan. Ketika negara mulai mencampuri keyakinan individu atas nama ketertiban umum. Dan ketika sekelompok kecil radikal mengatasnamakan kelompok mayoritas yang diam saja.

Mudah-mudahan kekhawatiran saya tidak beralasan. Namun puisi di atas mengingatkan untuk selalu kritis dan tidak apatis.

Senin, 21 April 2008

Kodrat Perempuan

Kodrat perempuan itu ada tiga: mengandung, melahirkan, dan menyusui. Itu saja, tidak kurang, tidak lebih. Demikian dikatakan salah satu psikolog (?) dalam suatu acara pagi di stasiun I-Radio. Urusan lainnya yang selama ini di-"konotasi"-kan sebagai kodrat perempuan, seperti urusan dapur, cleaning services, dandan, mengasuh anak, dan lain-lain itu sebenarnya bukan kodrat perempuan. Untuk melakukan hal-hal yang terakhir itu, sumber daya yang dibutuhkan (yaitu tangan, kaki, kepala, syaraf otak, dll) juga dimiliki oleh laki-laki.

Saya setuju dengan pendapat itu. Urusan rumah, dapur, membesarkan anak, dan sebagainya yang selama ini menjadi "kodrat" perempuan sebenarnya hanya suatu "kontrak sosial" antara sekelompok lelaki dan sekelompok perempuan di dalam suatu masyarakat. Lebih khusus lagi, itu merupakan "kontrak perkawinan" antara suami dan istri dalam suatu rumah tangga. Jadi pembagian peran dan pekerjaan itu terbuka untuk ditinjau dan dibicarakan kembali oleh para pasangan suami istri. Tidak usah bawa-bawa kodrat untuk menghindari atau menginginkan suatu peran atau pekerjaan dalam kehidupan berumah tangga maupun bersosial masyarakat.

Jadi, sekali lagi: urusan menghamili itu kodrat laki-laki. Urusan dihamili itu kodrat perempuan. Demikian juga mengandung, melahirkan, dan menyusui, itu kodrat perempuan; laki-laki gak bakalan bisa deh.

Jumat, 29 Februari 2008

Busway: Mati Muda?

Ketika ada kabar bahwa jalur busway koridor Ragunan-Kuningan akan dijadikan jalur contra- flow dengan sistem buka tutup, saya langsung bilang: "Wah, selesai nih busway!"


Sistem contra-flow itu berarti pada jam-jam sibuk, bus Transjakarta akan menggunakan jalur busway yang berlawanan arah. Supaya tidak bertabrakan dengan bus dari arah sebaliknya akan diterapkan sistem buka-tutup. Lalu jalur busway yang seharusnya dipakai bus Transjakarta itu akan digunakan untuk jalur mobil biasa, supaya mengurangi kemacetan. Lho????


Bila sistem ini jadi dilaksanakan, maka para pengguna busway akan semakin berkurang kenyamanannya, kemudian pengguna makin berkurang, sehingga pengelola rugi terus, akhirnya program busway tutup. Padahal semula busway ditujukan untuk meningkatkan kualitas angkutan massal sehingga mampu mengurangi pemakaian mobil pribadi. Selain itu, sistem contra-flow seakan-akan "mengakui" bahwa penyebab kemacetan adalah busway, bukan mobil pribadi.


Program busway memang menghadapi sejumlah masalah, salah satu yang paling mencolok adalah waktu tunggu penumpang. Jarak antar bus masih di atas 20 menit, malah kadang-kadang 30 menit, padahal pada jam sibuk idealnya head ini berkisar 5 menit. Juga karena head masih di atas 20 menit itu menyebabkan jalur busway sering terlihat kosong. Hal ini semakin menggoda para pengguna mobil pribadi untuk menyerobot jalur. Karena diserobot, pada titik-titik tertentu bus Transjakarta juga ikut terkena macet sehingga malah memperlama waktu tempuh penumpang (sekaligus waktu tunggu di halte).


Lucunya, bukannya menambah bus sehingga mampu mempersingkat head, tapi malah memperkenalkan sistem contra-flow. Aneh. Barangkali kita memang terbiasa berpikir lawak ala logika Srimulat.

Selasa, 26 Februari 2008

Kecerdasan Musik


Menyaksikan pergelaran Orkestra Cikini untuk kesekian kalinya, perasaan ini selalu campur-aduk. Pertama, rasa bangga karena putri kami ikut jadi pemain biola di sana. Sudah sejak kelas 3 SD sampai kini kelas 1 SMP, mulai dari orkes pemula, sampai sekarang anggota inti-yunior. Kedua, rasa haru karena selalu teringat almarhum orangtua. Orangtua-lah, terutama ibu, yang mengenalkan saya kepada musik klasik. Mereka juga yang memasukkan saya mengikuti les gitar klasik mulai kelas 6 SD. Ketiga, rasa senang karena bisa menikmati pergelaran orkestra klasik secara "live", walaupun hanya kelas lokal. Keempat, rasa curious karena ingin tahu dan penasaran apakah pengenalan musik, khususnya musik klasik, kepada anak-anak secara dini, akan mampu ikut membentuk kepribadiannya.


Kami percaya bahwa ada banyak kecerdasan, salah satunya adalah kecerdasan yang berkait dengan keindahan, musik misalnya. Kita tahu, sekolah formal terlalu menitik beratkan pada kecerdasan lingual-matematis, jadi tugas kitalah, orangtua, untuk menemukan kecerdasan lainnya yang mungkin dimiliki oleh anak-anak kita. Karena kita juga orang biasa, yang kecerdasannya juga biasa-biasa saja, maka menemukan kecerdasan anak kita menjadi tugas yang tidak mudah. Salah satu cara untuk mulai mencarinya adalah dengan memberikan paparan berbagai aspek kecerdasan bagi anak kita. Olahraga, bahasa, ruang spasial, bersosialisasi, dan musik.


Titik evaluasi penting yang sering membuat kami bimbang adalah, apakah kami sudah melanggar batas "perkenalan" atau "paparan" bermusik, dan mulai memasuki area "pemaksaan". Ketika anak sudah mulai malas, jenuh, atau tidak maju-maju, saya dan istri sering berdiskusi apakah sudah saatnya menghentikan paparan dan mulai mencari kecerdasan lainnya; atau hal ini hanya bagian dari "kemalasan" anak sehingga pencarian seharusnya tetap diteruskan. Dan ini sama sekali tidak mudah. Dua anak kami perilakunya juga berbeda.


Kami pilih musik klasik karena menurut pendapat saya, belajar memainkan alat musik melalui musik klasik akan mengalami lebih banyak paparan seluk-beluk keindahan seni musik. Dengan mengatakan ini tidak berarti saya melecehkan jenis musik lainnya. Namun harus diakui bahwa variasi struktur dan komposisi musik klasik jauh lebih banyak daripada jenis musik lainnya. Pengaruhnya juga melewati batas musik klasik. Lagu-lagu progresive-rock karya supergrup 70-an seperti Yes dan Genesis misalnya, sangat kental diwarnai oleh struktur musik klasik yang agak njelimet.



Kalaupun kecerdasan anak-anak kami bukan di musik, kami harap paparan musik yang kami lakukan bagi mereka akan memberikan bekas yang positif, entah itu kepribadian, ketrampilan, pengetahuan, atau sekedar pendengar saja. Dalam kaitan ini, saya sangat bersyukur dulu dipaparkan musik oleh orangtua saya. Walaupun sekarang saya hanya menjadi pendengar saja (bahkan karaoke pun tidak) namun saya sangat menikmati perjalanan hidup yang ditemani oleh seni musik dari berbagai genre. Atas segala kebaikan yang saya peroleh ini, mudah-mudahan pahala terus mengalir bagi kedua orangtua saya.


Mengenai anak-anak kami sendiri, well...., kitalah yang harus membukakan pintu-pintu dunia bagi mereka. biarlah mereka menemukan jalannya sendiri kelak.

Rabu, 20 Februari 2008

Kudeta Mekkah


Buku ini mengungkapkan kejadian pembajakan Masjidil Haram selama hampir 2 pekan di bulan November 1979 oleh sekelompok orang bersenjata pimpinan Juhaiman al-Utaibi. Secara tidak langsung buku ini juga mengungkapkan sisi buruk praktek negara-agama; kaum ulama memanfaatkan kekuasaan negara untuk kepentingan alirannya, dan negara (pemerintah) memanfaatkan kekuatan agama (ulama) untuk mempertahankan kekuasaannya. Sejenis kolusi antara ulama dan pemerintah.

Pada 20 November 1979 bertepatan dengan awal Muharam 1400 H, setelah salat subuh terdengar bunyi tembakan senapan di Masjidil Haram. Tidak lama kemudian melalui pengeras suara mesijd diumumkan bahwa Masjidil Haram sudah diambil alih dan Imam Mahdi telah tiba. Seketika itu juga di tujuh menara mesjid para pemberontak sudah menyiapkan senapan mesin untuk menjaga mesjid dari serbuan aparat keamanan Saudi Arabia. Para jemaah haji berhamburan keluar, namun menyisakan sejumlah jemaah haji yang terperangkap di dalam karena para pemberontak sudah keburu menutup pintu mesjid.

Siapakah Juhaiman? Mengapa ia dan kelompoknya melakukan aksi nekat seperti itu? Mengapa aparat keamanan Saudi membutuhkan waktu 2 pekan untuk melumpuhkan pemberontak dan menguasai keadaan?

Seorang kepala suku di Najd bernama Mohammad al Saud adalah pengikut awal Abdul Wahhab. Pada awal abad-19 koalisi Saud-Wahhab ini sempat menguasai sejumlah kota termasuk Mekkah dan Medinah dari tangan Turki Usmani, sebelum akhirnya dibasmi oleh tentara Mesir atas perintah imperium Usmani. Pada 1902, keturunan Saud kembali berhasil merebut Riyadh, dan koalisi Saud-Wahhabi berhasil menguasai jazirah Arab dan lahirlah apa yang disebut sekarang sebagai Saudi Arabia. Perpecahan awal Saud dan Wahhabi terjadi ketika kaum Wahhabi menyerang Irak dan Kuwait pada 1927 dalam rangka menentang Raja Saud. Inggris sebagai penguasa Irak dan Kuwait saat itu mengalahkan kaum Wahhabi dan mengusirnya dari Irak dan Kuwait. Kemudian kaum Wahhabi ini dikalahkan oleh pasukan Saud di wilayah Arab Saudi. Juhaiman adalah keturunan langsung dari kelompok yang kalah itu.

Pada awal 1970-an, para ulama Wahhabi dalam keadaan gusar menghadapi modernisasi yang dilancarkan oleh pemerintah Raja Faisal sejak 1960-an. Hal-hal yang ditentang oleh para ulama diantaranya adalah pendidikan bagi perempuan, pencabutan hukum perbudakan, TV dan radio, sepakbola, rokok, serta pertunjukan seni dan budaya. Ketidaksukaan ulama terhadap pemerintah diperburuk oleh perilaku keluarga kerajaan yang dianggap menyimpang dari tuntunan Islam, seperti minuman alkohol, berfoya-foya, dan sejenisnya.

Sebagai antisipasinya, para ulama kemudian mendirikan pusat dakwah untuk membendung nilai-nilai baru yang dianggap non-Islami dari luar. Karena kegiatan ini dibiayai oleh pemerintah dan para ulama itu digaji oleh pemerintah, sementara pemerintah itu identik dengan keluarga Saud, maka walaupun dakwah ulama itu selalu menentang hal-hal yang disebut di atas tadi, mereka tidak pernah mengkritik pemerintah.

Juhaiman bukan ulama yang digaji pemerintah, dan dia masih menyimpan dendam atas penghinaan kepada leluhurnya ketika dikalahkan oleh tentara Saud pada 1927. Maka akhirnya ia dan kelompoknya membajak Masjidil Haram pada November 1979.

Menghadapi pemberontakan Juhaiman, aparat keamanan Saudi terlihat keteteran. Karena kelemahan aparatnya, baik motivasi maupun ketrampilan profesionalnya, pemerintah Saudi memerlukan dukungan fatwa ulama untuk masuk ke Masjidil Haram membawa senjata dan berperang membasmi pemberontakan. Akhirnya para ulama membolehkan tentara Saudi berperang di Masjidil Haram dan membekuk para pemberontak, hidup atau mati. Tentunya tidak gratis. Pemerintah dituntut untuk membiayai program dakwah para ulama Wahhabi, tidak saja di Arab Saudi, tetapi di seluruh dunia. Sejumlah tuntutan Juhaiman, seperti pembatasan peran perempuan di publik dan penggantian beberapa pejabat publik, juga harus dipenuhi oleh pemerintah.

Walaupun sudah berbekal fatwa, tentara Saudi masih memerlukan waktu 1 minggu untuk menguasai kembali Masjidil Haram dan tambahan 1 minggu lagi untuk menangkap para pemberontak yang masih hidup yang bersembunyi di lantai bawah tanah Masjid. Ratusan tentara Saudi tewas sebagai korban dalam pertempuran ini. Itu pun setelah mendatangkan anggota pasukan khusus dari Perancis yang bertindak sebagai penasehat.

Penulis buku ini adalah Yaroslav Trofimov, koresponden luar negeri The Wall Street Journal. Lahir di Kiev, Ukraina, besar di Madagaskar, kemudian hijrah ke Amerika Serikat. Ia banyak menulis tentang agama dan perubahan sosial di negara-negara Muslim. Buku terkenalnya adalah Faith at War: A Journey on the Frontlines of Islam, from Baghdad to Timbuktu.
Trofimov berhasil mendapatkan informasi yang selama ini tidak diungkap mengenai kejadian pembajakan Masjidil Haram itu terutama dari Arab Saudi, baik di pihak pemerintah maupun di pihak pemberontak. Dalam analisisnya, Trofimov berkeyakinan bahwa kontradiksi yang timbul dari hubungan Saud-Wahhabi, ditambah sejarah kekerasan koalisi itu, membuat akan selalu ada Juhaiman-Juhaiman lainnya. Trofimov menyebut Osama bin Laden adalah salah satu buah konflik rumit itu. Mungkin karena hanya berpikir kelanggengan kekuasaannya, dinasti Saud secara tidak sadar telah memelihara anak macan yang bisa menggigit majikannya ketika dewasa. Ekspansi besar-besaran ideologi Wahhabi yang didanai oleh pemerintah Saudi secara tidak langsung ditengarai telah berhasil mewujudkan pemerintahan Taliban di Afganistan (sebelum digusur Amerika pasca WTC).