Tampilkan postingan dengan label musik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label musik. Tampilkan semua postingan

Selasa, 26 Februari 2008

Kecerdasan Musik


Menyaksikan pergelaran Orkestra Cikini untuk kesekian kalinya, perasaan ini selalu campur-aduk. Pertama, rasa bangga karena putri kami ikut jadi pemain biola di sana. Sudah sejak kelas 3 SD sampai kini kelas 1 SMP, mulai dari orkes pemula, sampai sekarang anggota inti-yunior. Kedua, rasa haru karena selalu teringat almarhum orangtua. Orangtua-lah, terutama ibu, yang mengenalkan saya kepada musik klasik. Mereka juga yang memasukkan saya mengikuti les gitar klasik mulai kelas 6 SD. Ketiga, rasa senang karena bisa menikmati pergelaran orkestra klasik secara "live", walaupun hanya kelas lokal. Keempat, rasa curious karena ingin tahu dan penasaran apakah pengenalan musik, khususnya musik klasik, kepada anak-anak secara dini, akan mampu ikut membentuk kepribadiannya.


Kami percaya bahwa ada banyak kecerdasan, salah satunya adalah kecerdasan yang berkait dengan keindahan, musik misalnya. Kita tahu, sekolah formal terlalu menitik beratkan pada kecerdasan lingual-matematis, jadi tugas kitalah, orangtua, untuk menemukan kecerdasan lainnya yang mungkin dimiliki oleh anak-anak kita. Karena kita juga orang biasa, yang kecerdasannya juga biasa-biasa saja, maka menemukan kecerdasan anak kita menjadi tugas yang tidak mudah. Salah satu cara untuk mulai mencarinya adalah dengan memberikan paparan berbagai aspek kecerdasan bagi anak kita. Olahraga, bahasa, ruang spasial, bersosialisasi, dan musik.


Titik evaluasi penting yang sering membuat kami bimbang adalah, apakah kami sudah melanggar batas "perkenalan" atau "paparan" bermusik, dan mulai memasuki area "pemaksaan". Ketika anak sudah mulai malas, jenuh, atau tidak maju-maju, saya dan istri sering berdiskusi apakah sudah saatnya menghentikan paparan dan mulai mencari kecerdasan lainnya; atau hal ini hanya bagian dari "kemalasan" anak sehingga pencarian seharusnya tetap diteruskan. Dan ini sama sekali tidak mudah. Dua anak kami perilakunya juga berbeda.


Kami pilih musik klasik karena menurut pendapat saya, belajar memainkan alat musik melalui musik klasik akan mengalami lebih banyak paparan seluk-beluk keindahan seni musik. Dengan mengatakan ini tidak berarti saya melecehkan jenis musik lainnya. Namun harus diakui bahwa variasi struktur dan komposisi musik klasik jauh lebih banyak daripada jenis musik lainnya. Pengaruhnya juga melewati batas musik klasik. Lagu-lagu progresive-rock karya supergrup 70-an seperti Yes dan Genesis misalnya, sangat kental diwarnai oleh struktur musik klasik yang agak njelimet.



Kalaupun kecerdasan anak-anak kami bukan di musik, kami harap paparan musik yang kami lakukan bagi mereka akan memberikan bekas yang positif, entah itu kepribadian, ketrampilan, pengetahuan, atau sekedar pendengar saja. Dalam kaitan ini, saya sangat bersyukur dulu dipaparkan musik oleh orangtua saya. Walaupun sekarang saya hanya menjadi pendengar saja (bahkan karaoke pun tidak) namun saya sangat menikmati perjalanan hidup yang ditemani oleh seni musik dari berbagai genre. Atas segala kebaikan yang saya peroleh ini, mudah-mudahan pahala terus mengalir bagi kedua orangtua saya.


Mengenai anak-anak kami sendiri, well...., kitalah yang harus membukakan pintu-pintu dunia bagi mereka. biarlah mereka menemukan jalannya sendiri kelak.

Selasa, 06 November 2007

Ungu Banget



Kembali ke tahun 1975. Aku masih kelas 5 SD, masih anak kecil, tapi sudah ingin punya mainan ABG. Salah satunya adalah ingin menjadi penggemar suatu kelompok musik. Radio OZ di Bandung sudah menjadi ikon anak muda (bahkan sampai sekarang masih bertahan, hebat). Majalah remaja yang ngetop adalah Aktuil. Band domestik yang populer waktu itu adalah Koes Plus, sementara band bule salah satunya adalah Deep Purple.




Album pertama Deep Purple yang kubeli adalah Stormbringer, termasuk lagu Soldier of Fortune yang legendaris itu. Belinya di toko kaset langganan ayahku di De Zon jalan Asia Afrika Bandung. (De Zon itu kira-kira kalo sekarang semacam ITC). Jaman dulu jika sudah punya langganan, beli kaset itu boleh bawa 10 ke rumah, pilih, lalu beli 2-3 kaset, sisanya dikembalikan dalam waktu 1 hari. Masih ingat benar, labelnya Lolita Record. Bajakan tentunya, jaman itu mana ada barang asli?




Perkenalanku dengan Deep Purple melalui dua jalur; teman sebelah rumah dan sepupuku di Semarang. Temanku punya kakak yang sudah SMA, dan seperti biasa sikap seorang kakak terhadap adiknya, kalau dalam bahasa sekarang kira-kira begini: "Kalo mau keren, nih dengerin Deep Purple. Cool banget deh". Ketika liburan ke Semarang ketemu sepupuku yang juga sudah SMA, musiknya juga Deep Purple, aku seperti mendapat verifikasi: inilah musik keren!




Sejak itu aku jadi fans berat Deep Purple. Hampir semua albumnya kubeli; Deep Purple in Rock, Machine Head, Fireball, Live in Japan, Live in Europe, Burn, sampai album Come Taste The band. Aku hapal personil dan bongkar pasangnya: vokalis Ian Gillan diganti David Coverdale karena Gillan bentro dengan gitaris Ritchie Blackmore. Bassist Roger Glover ikut kena getahnya didepak dan diganti oleh Glen Hughes, ex Trapeze. Formasi baru ini menghasilkan album Burn dan Stormbringer. Lalu Blackmore keluar karena tidak cocok dengan selera musik Coverdale, dan diganti oleh gitaris Amerika Tommy Bolin. Formasi ini menghasilkan album Come taste the Band. (Blackmore kemudian membentuk band baru, Rainbow. Aku juga menjadi penggemarnya).


Ayah dan ibuku selalu geleng-geleng kepala kalau aku sedang mendengarkan DeepPurple. Apalagi setelah lihat tampang personilnya: gondrong sepinggang, celana cutbray, sepatu hak tinggi (dog-killer). Mereka tidak habis mengerti mengapa ribuan orang (termasuk sepupuku yang di Semarang) rela pergi ke Stadion Utama Jakarta untuk menonton pentas kelompok cadas itu.


Hal yang sama terulang. Anak-anakku (kelas 1 SMP dan 5 SD) menyukai Black Eyed Peas, Eminem, Linkin Park, dan sejenisnya. Aku geleng-geleng kepala juga.............